Featured

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pages

Blogroll

Popular Posts

Popular Posts

Media dan Masyarakat

Disini kami akan memberikan berita-berita terbaru dari seluruh Indonesia, dengan kelengkapan isi berita yang dapat memberikan informasi kepada anda mengenai kejadian-kejadian disekitar anda dengan singkat, padat, jelas dan fakta.

Akhir Perjalanan 'Burung' Aceh Si Pembawa Sabu

Liputan6.com, Jakarta Polda Metro Jaya membongkar sindikat sabu Malaysia-Indonesia yang menggunakan jasa 'burung'. Burung adalah istilah untuk kurir yang memasukkan sabu ke dalam anus mereka dan mengeluarkannya setelah sampai di lokasi penerima. Untuk bisa masuk ke dalam anus, sabu tersebut dikemas bulat seperti telur dengan plastik bening.
Setelah itu, sabu dibungkus lagi dengan kondom kemudian dibungkus lagi dengan lakban hitam. Permukaan kemasan diolesi baby oil agar licin dan mudah keluar masuk anus si 'burung'. Istilah 'burung' populer di kalangan sindikat narkoba Aceh.
"Mereka itu dipanggil burung, yaitu orang yang terbang bawa ini sabu dalam bungkus bulat. Sampai di tempatnya, dia bertelur, terus pulang. Itu burung sebutannya, istilah orang-orang di Aceh sana. Sabunya diibaratin telur," ujar Kasubdit II Direktorat Reserse Narkoba AKBP Gembong Yudha ketika berbincang dengan Liputan6.com di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin, 23 Mei 2016.
"Jadi pertama (sabu) dibungkus plastik, dibungkus lagi pakai kondom, baru dilakban hitam, baru dioles pakai baby oil dan dimasukkan ke dubur," sambung Gembong.


"Ada orang Aceh tiga orang inisialnya SUD, MJ dan SB, dapat perintah dari orang Aceh di Malaysia untuk masukkan barang dari Malaysia ke Indonesia. Kemudian mereka berangkat via Batam ke Malaysia, di sana langsung sudah dikasih barang," ungkap Gembong.
Gembong berujar, tiga 'burung' yang tertangkap di Bandara Soekarno Hatta Tangerang, diketahui pergi ke Kuala Lumpur dengan kapal lau untuk mengambil telur sabu atas perintah warga Aceh yang tinggal di sana. Sesampainya di sana, para 'burung' disuruh membawa dua telur sabu yang masing-masing beratnya 1 ons.
Setelah itu mereka diterbangkan dengan maskapai Garuda Indonesia ke Jakarta untuk selanjutnya terbang ke kota tempat pemesan telur sabu berada.
"Dia berangkat lewat jalur laut, pulangnya naik pesawat Garuda. Satu orang masing-masing bawa dua bungkus, satu bungkus beratnya 1 ons. Ada yang gemuk bawa 2,5 ons," jelas Gembong.
"Jadi total sabu yang dibawa 650 gram dibagi tiga orang," tambah Gembong.
Gembong menjelaskan jalur udara dipilih para sindikat dibanding jalur laut. Pasalnya, perjalanan laut akan memakan waktu lama dan para burung tak bisa bertahan lama dengan telur sabu di anus mereka. Keterbatasan deteksi alat pemindai di bandar udara pun menjadi salah satu faktor pertimbangan mereka.
"Kan tidak ada X-Ray yang untuk tubuh kan (di bandara). X-ray kan untuk barang, lagi pula baru adanya pemindai logam," ucap Gembong

0 komentar:

Posting Komentar

 
Free Website templatesfreethemes4all.comLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesFree Soccer VideosFree Wordpress ThemesFree Blog templatesFree Web Templates