Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Jero Wacik menuai kecaman.
Ia menyebut media online adalah media yang tidak jelas karena
narasumber yang diberitakan tidak valid. Setelah menuai kritik, akhirnya
Jero meminta maaf.
Namun, anggota Dewan Pers Stanley Adhi
Prasetya mengingatkan Jero, sebagai pejabat publik harus berhati-hati
berbicara. Pejabat publik juga diharapkan mengetahui perkembangan media
online.
"Tapi beliau hari ini sudah meminta maaf, artinya beliau
punya kesadaran. Saya kira positif sudah menyadari. Tapi siapapun yang
menjadi pejabat publik harus mengerti perkembangan media," ujar Stanley
di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin (15/7/2013).
Menurut
Stanley, media siber atau media online sekarang ini sama halnya media
massa lainya. Maka itu tidak semestinya masyarakat khususnya pejabat
publik membedakan dengan media massa lainya. Karena media online
merupakan hasil perkembangan media massa.
"Itu kan sudah niat
baik minta maaf, tapi kalau teman (media) online mau menuntut silakan
untuk mengadu, misalnya karena perbuatan tidak menyenangkan. Namun
menurut saya beliau pejabat negara."
Dewan Pers, lanjut Stanley,
akan menyampaikan kepada para pihak terkait dan siap berupaya memediasi,
atau proses hukum. "Kita pada dasarnya konsen terhadap kebebasan pers
supaya pers tidak selalu dilecehkan. Apalagi disebut sebaran gelap. Ini
yang harus dipertimbangkan bersama," ujarnya.
"Kalau ada organisasi atau asosiasi jurnalis online, silakan mengadu, kami menunggu. Kami dalam taraf menunggu," imbuh Stanley.
AJI Tak Akan Lupa
Sedangkan
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menegaskan tidak akan menuntut
apa-apa terkait pernyataan tersebut. Bahkan, AJI mengapresiasi
klarifikasi dan permintaan maaf Jero terkait pernyataannya tersebut.
"Dia sudah minta maaf, ya kita terima maafnya. Tapi kita tidak akan lupa
dengan apa yang dia lakukan," kata Ketua Umum AJI, Eko Mariyadi, ketika
dihubungi wartawan.
Eko mengatakan, AJI dan komunitas pers
lainnya tetap memberi catatan, bahwa pejabat-pejabat negara saat ini
cenderung melecehkan profesi wartawan. Karena itu, lanjut Eko, komunitas
pers akan tetap memantau pejabat yang dinilai kurang bersahabat dengan
media, khusus dari sisi pernyataan yang merugikan dan melenceng dari
Undang-undang Pers.
"Kita harus ikut mendidik (mereka). Komunitas pers harus ikut mendidik para pejabat," ujar dia.
Di
sisi lain Eko menggarisbawahi, bahwa wartawan pun harus siap menerima
kritikan dan jangan merasa superior. "Misalnya dikritik beritanya tidak
punya narasumber kredibel. Nah, itu juga harus menjadi bagian dari
kritik internal media. Intropeksi, baik bagi komunitas pers dan
wartawannya juga," ucap dia.
Surat Kaleng
Menteri
ESDM Jero Wacik pada Jumat 12 Juli merendahkan pemberitaan di semua
media online. Menurut Jero, narasumber yang diberitakan media online
tidak valid.
"Media online itu bikin berita enggak jelas, sumbernya enggak jelas," ujar Jero di kantor Kementerian ESDM,
Jero
pun membandingkan pemberitaan media online dengan media cetak. Di media
cetak, dia bisa mengetahui nama penulis, dan sang penulis bisa diprotes
jika ada sesuatu yang salah dalam pemberitaan.
"Kalau media cetak kan jelas, kalau ada apa-apa, bisa dikritik, ketahuan penulisnya, bisa ditelepon," ungkap Jero.
Jero
bahkan menilai pemberitaan di media online seperti surat kaleng. "Media
online seperti surat kaleng, tidak jelas," papar Jero.
Minta Maaf
Jero
Wacik telah mengklarifikasi bahwa dirinya tidak bermaksud untuk
membedakan media baik itu media cetak, elektronik, atau pun online.
Sejauh ini justru dirinya merasa terbantu dan bersinergi dengan
pemberitaan informasi dari rekan-rekan wartawan.
"Tidak ada
sedikit pun bahwa saya ingin merendahkan apalagi melecehkan eksistensi
dan profesionalisme media online. Tanpa pengecualian justru saya sendiri
merasa terbantu dan bersinergi lantaran informasi dapat saya lihat dari
semua media," tutur Jero.
Yang dimaksudnya media online seperti
surat kaleng adalah mengenai kolom komentar atau surat pembaca. Sejumlah
komentar dan surat pembaca yang ada pada media online sering kali
ditemukan komentar-komentar anonim. Menurut dia, hal itu itu sulit
diidentifikasi mengenai pengirim dari komentar-komentar tersebut.
"Saya
orang yang memegang prinsip kebebasan Pers. Namun kebebasan yang sarat
dengan etika dan prinsip demokrasi. Saya menilai akun-akun anonim yang
berkomentar dengan tanpa identitas jelas cenderung mengkeruhkan
informasi," ujar Jero.
"Saya pribadi mempercayai media online
adalah media massa depan dalam dunia media digital, dan media adalah
pilar demokrasi di republik ini. Dalam mewartakan informasi, edukasi dan
kebenaran," imbuh Jero. (Mut/Ado/Sss)
credit : liputan 6
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar